BAB II KAJIAN TEORI

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Deskripsi Teori

Penelitian ini terdiri dari dua variabel bebas (X) dan satu variabel terikat (Y), yaitu minat drama (X1), kemampuan membaca pemahaman teks drama (X2) dan kemampuan menulis naskah drama (Y). Oleh karena itu, deskripsi teori yang akan dibahas dalam bab ini adalah teori tentang minat drama, kemampuan membaca pemahaman teks drama, dan kemampuan menulis naskah drama.

1. Minat Drama

  1. Pengertian Minat

Siswa yang memiliki minat terhadap suatu objek tentu siswa cenderung memberikan perhatian yang lebih besar terhadap suatu objek tersebut. Timbulnya minat terhadap suatu objek akan disusul dengan meningkatnya perhatian terhadap objek tersebut. Perhatian yang lahir karena adanya minat akan membuat individu mengikuti atau memperhatikan suatu objek secara sungguh-sungguh dengan perasaan senang tanpa ada unsur paksaan dari dalam maupun dari luar diri siswa.

10

Menurut Winkel (1984: 30), minat adalah kecenderungan yang menetap dalam subjek, untuk merasa tertarik pada bidang/hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu. Menurut Hurlock (1999: 114), minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan bila mereka bebas memilih. Bila mereka melihat bahwa sesuatu akan menguntungkan, mereka merasa berminat. Hal ini dapat mendatangkan kepuasan.

Wahadaniah (1997: 16) menyatakan bahwa minat adalah: a) kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu, b) gairah dan c) keinginan. Peryataan lain dikemukakan oleh Rusyada, dkk (1970: 11) bahwa minat adalah kesadaran seseorang bahwa suatu objek, orang hal, atau, keadaan mempunyai kontribusi tau kepentingan baginya. Minat Merupakan kecenderungan yang timbul apabila individu tertarik pada sesuatu karena sesuai dengan kebutuhannya. Minat sangat penting peranannya bagi pendidikan sebab merupakan sumber dari usaha dan minat timbul dari kebutuhan siswa yang akan merupakan faktor pendorong bagi siswa dalam melakukan usahanya (Effendi, 1985: 122).

Jadi, dapat disimpulkan bahwa minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap suatu objek yang dianggapnya dapat memberikan kesenangan dan kebahagiaan. Kecenderungan ini bersifat fundamental atau mendasar sehingga akan menimbulkan suatu kesadaran untuk selalu berhubungan aktif dan timbul keinginan untuk memperoleh serta mengembangkan apa yang telah membuatnya senang dan bahagia. Minat merupakan sesuatu yang lahir dari dalam diri masing-masing individu tanpa adanya unsur paksaan dari luar atau berdasarkan kesadaran. Kesadaran itu timbul karena adanya keyakinan bahwa perbuatan yang dilakukan akan mendatangkan rasa senang pada dirinya. Minat dengan perasaan senang mempunyai hubungan timbal balik. Individu melakukan suatu kegiatan dengan perasaan senang, karena di dalam dirinya terdapat minat terhadap objek tersebut.

1) Faktor yang Mempengaruhi Minat

Rumini (1998: 121) menyatakan bahwa minat dapat dipengaruhi oleh faktor pekerjaan, sosial ekonomi, bakat, umur, jenis kelamin, pengalaman, kepribadian, dan lingkungan. Peranan minat adalah mengarahkan perilaku konsentrasi terhadap masalah, jadi merupakan faktor penting dalam mempertimbangkan sesuatu untuk berbuat. Prestasi yang berhasil akan menambah minatnya, dan hal ini akan berlangsung terus-menerus, namun tak semua siswa mempunyai minat dalam bidang palajaran yang baru. Siswa yang demikian dapat mengembangkan minatnya pada bidang pelajaran karena pengaruh gurunya, teman sekelasnya atau keluarganya.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa minat dipengaruhi oleh banyak faktor seperti pekerjaan, sosial ekonomi, bakat, umur, jenis kelamin, pengalaman, kepribadian, lingkungan, perkembangan fisik dan mental, kesiapan belajar, kesempatan belajar, pengaruh budaya, perasaan atau bobot emosional.

2) Ciri-ciri Minat

Menurut Gie (1994: 28), minat mempunyai ciri-ciri: melahirkan perhatian yang serta merta, memudahkan terciptanya konsentrasi, mencegah gangguan perhatian dari luar, memperkuat melekatnya bahan pelajaran dalam ingatan, dan memperkecil kebosanan studi dalam diri sendiri. Slameto (1995: 180) mengungkapkan bahwa minat dapat diekspresikan melalui peryataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal dari pada hal lainnya dan minat tidak dibawa sejak lahir. Dengan demikian, minat diperlukan ketika individu tengah menekuni suatu aktivitas atau objek yang diminatinya. Minat terhadap sesuatu dipelajari dan mempengaruhi belajar selanjutnya serta mempengaruhi penerimaan minat-minat baru.

  1. Pengertian Drama

Drama berasal dari bahasa Yunani “dromai” yang berarti: berbuat, berlaku, bertindak, atau beraksi. Drama berarti perbuatan, tindakan atau beraksi (Harymawan, 1993: 1).

Menurut KBBI (1998: 275), drama adalah komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang dipentaskan. Drama dapat diartikan juga sebagai cerita atau kisah, terutama yang melibatkan konflik dan emosi yang disusun untuk pertunjukan teater.

Perkataan drama sering dihubungkan dengan teater. Sependapat dengan hal itu, Stanislavisky et all (2002:103) merumuskan tentang teater yang bertujuan untuk membuat sebuah peristiwa di mana rangkaian adegan dapat langsung muncul secara bersamaan dalam sebuah komunitas secara perlahan-lahan terpisah karena hukum alam yang mencipta setiap komunitas. Kemudian pada momen tertentu, dunia ynag terpisah ini muncul bersamaan dalam waktu tertentu. Sebenarnya perkataan “teater” mempunyai makna lebih luas karena dapat berarti drama, gedung pertunjukan, panggung, grup pemain drama, dan dapat pula berarti segala bentuk tontonan yang dipentaskan di depan orang banyak (Waluyo, 2002:3).

Brook, dalam bukunya menjelaskan tentang kaidah drama bahwa unsur dasar suatu drama ialah dialog.

Di sana terdapat ketegangan dan anggapan bahwa dua orang yang saling tidak bersetuju. Inilah konflik, entah konflik itu bersifat halus atu kasar tidaklah penting. Bila sudut pandang bertabrakan maka sang pengarang (naskah) berkewajiban memberi masukan yang sama semacam menjaga kredibilitas keduanya. Bila ia tak mampu malakukan itu maka hasilnya akan lemah. Ia harus menjelajahi dua pendapat (opinion) yang saling bertentangan dengan pemahaman yang sama terhadap keduanya. Juga pengarang naskah itu diberkahi dengan hati yang tidak terbatas (Brook, 2002:22).

Dalam arti sempit, drama dapat ditafsirkan sebagai gambaran kisah hidup manusia yang dituangkan dalam bentuk pementasan, disaksikan banyak orang yang didasarkan pada naskah, dengan media (dialog, gerak, laku, gesture, mimik), dengan musik atau tanpa alat musik pengiring (Harymawan, 1993:2). Drama naskah merupakan merupakan salah satu genre sastra yang dapat disejajarkan dengan fiksi (cerpen atau novel) dan puisi atau dapat dapat disebut juga bentuk/rencana tertulis dari cerita drama (Harymawan, 1993:22). Drama pentas merupakan integrasi antara berbagai jenis kesenian seperti musik, seni rupa (berhubungan dengan seting panggung), seni rias, kostum, dan lain-lain (Waluyo, 2003:2).

Dengan mencermati beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa drama merupakan imitasi dari kehidupan atau perilaku manusia yang dipentaskan dengan suatu penampilan gerak, dialog, mimik, dan gesture yang dapat dinikmati dalam pementasan.

  1. Minat Drama

Seseorang akan berminat pada suatu objek kegiatan apabila kegiatan tersebut sesuai dengan kebutuhannya. Begitu pula dengan minat drama, seseorang akan berminat drama apabila hal tersebut sesuai dengan kebutuhannya. Sesuai dengan pendapat Harras dan Sulistianingsih (1997: 27), orang yang dalam dirinya telah memiliki minat yang tinggi terhadap sesuatu hal, maka dirinya umumnya akan dengan senang dan suka rela mengerjakan hal yang diminatinya tersebut, walaupun untuk itu dirinya harus melakukan sebuah pengorbanan, baik secara materi maupun non-materi.

Dalam pengajaran sastra di sekolah, faktor minat memegang peran yang cukup penting. Dalam hal ini, minat sastra (drama) ditunjukkan melalui minat belajar siswa pada segala sesuatu yang berhubungan dengan drama. Siswa yang mempunyai minat, diperkirakan cenderung untuk memberikan perhatian dan kemampuan untuk melakukan pengamatan, penilaian, dan penghargaan terhadap drama secara sungguh-sungguh dan berulang kali.

Minat drama siswa akan menimbulkan perhatian, rasa senang dan kecenderungan untuk lebih aktif terhadap drama. Selain itu, minat akan menumbuhkan penghargaan terhadap drama yang telah dibaca atau yang ditontonnya dan pemahaman perihal unsur pembentuk drama sebagai suatu struktur yang dibentuk oleh pelaku, latar, rangkaian cerita maupun tema. Adanya minat memungkinkan keterlibatan yang lebih besar dalam suatu kegiatan. Apabila seseorang menaruh minat pada sesuatu maka minatnya berfungsi sebagai pendorong yang kuat untuk terlibat aktif pada objek yang menarik baginya.

Dengan demikian, minat drama dapat diberi pengertian kecenderungan individu untuk memperhatikan, menyenangi, dan mengakrabi serta berhubungan aktif dengan drama. Minat merupakan salah satu faktor pendorong yang sangat kuat pada diri seseorang untuk berbuat dan meningkatkan keberhasilan aktivitasnya. Minat seseorang dipengaruhi oleh faktor kebutuhan dan kepentingan individu, keragaman dan corak pengalaman yang diperoleh sejak kecil, faktor jenis kelamin, kondisi atau status sosial ekonomi kehidupan keluarga, dan kebiasaan dan kesenangan anggota keluarganya masing-masing.

2. Membaca Pemahaman Teks Drama

  1. Pengertian Membaca

Menurut Hodgoson yang dikutip oleh Tarigan (1987:7), membaca merupakan suatu proses yang dilakukan serta depergunakan pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media bahasa tulis. Dijelaskan pula bahwa membaca dapat dianggap sebagai proses untuk memahami hal tersirat dan melibatkan pikiran yang terkandung dalam kata-kata yang tertulis. Oleh sebab itu, pesan yang tersurat ataupun yang tersirat akan dipahami serta proses membaca dapat terlaksana dengan baik.

Saat melakukan kegiatan membaca diperlukan kejelian pembaca untuk mengetahui isi yang tersurat ataupun yang tersirat. Finochiaro dan Bonomo seperti dikutip oleh Tarigan, (1987:8) secara singkat menjelaskan bahwa reading adalah bringing meaning and getting meaning from printed or written material, memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung di dalam bahasa tertulis. Pendapat lain yang dikemukakan oleh Lado dalam tulisan Tarigan (1987:9) bahwa membaca adalah memahami pola-pola bahasa dari gambaran tertulisnya.

Di lain pihak, Sugirin (1997:3) menyatakan bahwa membaca adalah memahami isi buku sesuai dengan yang dimaksud oleh penulisnya. Pemahaman akan suatu isi buku atau bacaan merupakan hasil dari proses membaca, yaitu proses interaksi antara pembaca dan penulis. Paham akan suatu isi bacaan merupakan indikator kemampuan pembaca dalam memahami teks. Dengan demikian, kemampuan membaca pada dasarnya berkaitan dengan tingkat pemahaman dalam membaca sedangkan pemahaman terhadap suatu bacaan sangat dipengaruhi oleh faktor kebiasaan membaca.

Menurut William seperti dikutip Harras dan Sulistianingsih (1997:6) membaca adalah pemahaman/understanding. Selain itu, membaca adalah proses kegiatan mencocokkan huruf atau melafalkan lambang-lambang bahasa tulis (Anderson yang dikutip oleh Harras dan Sulistianingsih, 1997:6). Pengertian lain dijelaskan oleh Bonomo yang dikutip oleh Harras dan Sulistianingsih (1997:6) bahwa membaca merupakan proses memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung dalam bahasa tulis. Selain itu, membaca ialah kegiatan memetik makna atau pengertian, bukan hanya deretan kata yang tersurat saja, melainkan juga makna yang terdapat diantara baris, bahkan makna yang terdapat dibalik baris tersebut (Goodman yang dikutip Harras dan Sulistianingsih, 1997:7).

Sementara itu, Adler (1986:3) menambahkan bahwa membaca ialah proses memperoleh pemahaman serta bagian terbesar dari pengetahuan dan informasi. Selain itu ditekankan juga oleh Adler, menurutnya tidak ada kegiatan membaca yang sama sekali tidak memerlukan keaktifan/aktivitas (menggerakkan mata dan menggunakan pikiran).

Berdasarkan kutipan dari beberapa pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh informasi yang terdapat di dalam tulisan yang disampaikan penulis melalui media bahasa tulis.

  1. Tujuan Membaca

Tujuan utama membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, dan memahami makna bacaan (Tarigan, 1987:9). Selanjutnya, Anderson lewat Tarigan (1987:9-10) mengemukakan tujuan membaca adalah untuk: memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for details facts), memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas), mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita (reading for sequence or organization), menyimpulkan (reading for inference), mengklasifikasikan (reading to classiy), mengevaluasi (reading to evaluate), membandingkan (reading to compare or contrast).

Menurut Suchad (1997: 5-6) tujuan membaca adalah untuk meningkatkan pengetahuan, belajar melakukan sesuatu, hiburan, pembentukan budi pekerti, dan IMTAQ. Anderson lewat Tarigan (1987: 9-10) mengemukakan tujuan membaca adalah untuk: memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for details facts), memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas), mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita (reading for sequence or organization), menyimpulkan (reading for inference), mengklasifikasikan (reading to classiy), mengevaluasi (reading to evaluate), dan membandingkan (reading to compare or contrast). Dengan demikian, tujuan utama membaca adalah untuk memperoleh makna yang tepat dari bacaan yang dibacanya.

  1. Tingkat Pemahaman Membaca

Menurut Nurgiyantoro (2001:232), dalam tingkat pemahaman membaca terdapat taksonomi Bloom yang meliputi pengetahuan, pemahaman, apresiasi, analisis, sintetis, dan evaluasi. Taksonomi ini kemudian diadaptasi oleh barret yang diciptakan khusus untuk tes kemampuan membaca. Sedangkan menurut Hafni (1982:33-37), tingkatan dalam membaca pemahaman dirinci sebagai berikut.

1. Pemahaman harfiah

Pemahaman harfiah memberikan tekanan pada pokok pikiran dan informasi yang secara langsung diungkapkan dalam wacana. Ini berarti pembaca hanya menagkap makna secara eksplisit yang terdapat dalam bacaan. Tujuan membaca dan pertanyaan guru yang dirancang untuk memancing jawaban berkisar antara pertanyaan sederahana ke pertanyaan kompleks. Tugas sederhana dalam pemahaman harfiah adalah untuk mengenal dan mengingat kembali fakta atau serangkaian kejadian yang berurutan sebagaimana diceritakan dalam bacaan.

2. Pemahaman inferensial

Pemahaman inferensial ditujukan kepada siswa bila ia menggunakan buah pikiran atau informasi secara gamblang dikemukakan dalam wacana, intusi, dan pengalaman hidup pribadi. Pemahaman inferensial tersebut pada umumnya dirangsang oleh tujuan membaca dan pertanyaan-pertanyaan guru yang menghendaki permikiran dan imajinasi pembaca.

3. Pemahaman mereorganisasi

Pemahaman mereorganisasi menghendaki siswa menganalisis, mensistesis, dan mengorganisasi buah pikiran atau informasi yang dikemukakan secara eksplisit dalam wacana. Hal ini dapat dilakukan dengan memparafrasekan atau menerjemahkan ucapan penulis.

4. Pemahaman evaluasi

Pemahaman evaluasi menanti respon siswa yang telah mengevaluasi dengan membandingkan buah pikiran yang disajikan dalam wacana dengan kriteria luar yang berasal dari pengalaman dan pengetahuan siswa atau nilai-nilai dari siswa. Pada dasarnya, evaluasi dihubungkan dengan tilikan judgement dan menekankan pada sifat ketepatan, kberterimaan, nilai, atau kemungkinan suatu kejadian.

5. Apresiasi

Apresiasi melibatkan seluruh dimensi kognitif karena berhubungan dengan dampak psikologis dan estetis terhadap pembaca. Apresiasi menghendaki supaya pembaca secara emosional mereaksi nilai dan kekayaan unsur psikologis dan artistik yang ada dalam karya tersebut. Apresiasi mencakup pengetahuan tentang respon emosional terhadap teknik-teknik, bentuk, gaya serta struktur suatu karya. Taksonomi inilah yang kemudian akan digunakan sebagai landasan penyusunan indikator tes membaca pemahaman dalam penelitian ini.

  1. Membaca Karya Sastra

Membaca karya sastra akan berbeda jika dibandingkan dengan membaca karya ilmiah. Dalam membaca karya sastra pembaca akan menemukan keindahan-keindahaan yang tercermin dari keserasian, keharmonisan antara keindahaan bentuk, dan keindahaan isi (Tarigan, 1987: 138). Aminuddin (2002: 20) menyatakan bahwa membaca sastra dapat juga meningkat menjadi kegiatan membaca kritis, yakni bila melalui teks sastra yang dibaca. Dalam kegiatan membaca karya sastra, pembaca bukan hanya bertujuan memahami, menikmati dan menghayati, melainkan juga bertujuan memberi penilaian. Kegiatan membaca sastra menggunakan pikiran dan perasaan secara krtis untuk menemukan dan mengembangkan suatu konsep dengan membandingkan isi teks sastra yang dibaca dengan pengetahuan, pengalaman, serta realitas lain yang diketahui pembaca untuk memberikan identifikasi, perbandingan, penyimpulan, dan penilaian. Lebih lanjut, membaca sastra juga dapat ditautkan dengan kegiatan membaca kreatif, yaitu kegiatan membaca yang dilatari tujuan menerapkan perolehan pemahaman dari membaca untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang bersifat aplikatif. Dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa membaca karya sastra merupakan kegiatan membaca yang berbeda jika dibandingakan dengan membaca karya ilmiah.

  1. Teks Drama

1. Drama sebagai Teks Sastra

Drama sebagai karya sastra sebenarnya bersifat sementara karena naskah drama ditulis untuk dipentaskan. Akan tetapi, tidak semua naskah drama itu disusun untuk selalu dipentaskan. Ada bebarapa naskah yang dapat dinikmati dengan membacanya. Hal ini dikarenakan ada dua aspek yang menyangkut sebuah naskah drama, yaitu aspek cerita sebagai bagian dari sastra dan aspek pementasan yang berhubungan erat dengan seni lakon atau seni teater. Dalam naskah tersebut, dilukiskan segala perbuatan yang dilakukan oleh para pelaku cerita untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam usahanya untuk mencapai tujuan tersebut, ia diharapkan pada sebuah hambatan yang dipertunjukkan lewat gerak dan dialog. Dialog yang ditulis harus mempunyai daya tarik sehingga dapat mempengaruhi emosi penonton dan pembaca.

Pada umumnya, naskah drama dibagi dalam babak-babak. Babak adalah bagian dari naskah yang merangkum setiap peristiwa dalam adegan. Adegan adalah bagian dari babak yang batasnya ditentukan oleh perubahan berhubung datangnya atau perginya seorang atau lebih tokoh cerita. Drama yang terdiri dari tiga atau lima babak disebut drama panjang (full long play), sedangkan drama yang hanya terdiri dari satu babak disebut drama pendek atau srama satu babak (Sumardjo dan Saini, 1997:32).

Setiap jenis karya sastra terdiri dari unsur-unsur yang membentuk suatu susunan atau struktur sehingga menjadi wujud yang bulat dan utuh. Unsur-unsur karya sastra bersifat umum dan khusus. Artinya, karya sastra mempunyai unsur yang khas tetapi juga mempunyai unsur-unsur yang sama dengan jenis karya sastra yang lain. Unsur yang membangun drama juga mempunyai kesamaan dengan unsur jenis karya sastra lainnya. Akan tetapi, drama memiliki unsur yang khas, yaitu adanya dialog dan gerak (move).

Unsur yang paling penting dan yang membedakan drama dengan karya sastra lain adalah adanya dialog. Begitu pentingnya diaog dalam drama sehingga tanpa kehadirannya, suatu karya sastra tidak dapat digolongkan sebagai drama (Sumardjo dan Saini, 1997:136). Selain diaog, juga terdapat teks samping yang biasanya sebai petunjuk dari pengarang yang dimaksudkan segala gerak tubuh dan mimik tokohnya. Petunjuk tersebut biasanya ditulis dengan cetak miring/tebal. Teks samping memaparkan suatu uraian mengenai sebuah keadaan, suasana, peristiwa atau perbuatan, dan sifat tokoh cerita (Sumardjo dan Saini, 1997:137). Hal di atas merupakan pembeda dari drama dengan jenis karya sastra yang lain.

2. Unsur-unsur Naskah Drama

Dalam penulisan naskah drama, perlu diperhatikan hal-hal yang menjadi karakteristik drama. Pengungkapan tokoh, penyampaian gagasan dengan alur yang logis, dan penggambaran seting yang jelas akan menciptakan naskah benar-benar hidup. Penulis harus bisa mengolah suatu konflik menjadi permainan yang menarik, dengan mengekspresikannya melalui jalinan peristiwa dan susunan kata yang mewakili gerak.

a) Plot atau Alur

Alur merupakan konstruksi yang dibuat mengenai sebuah deretan peristiwa secara logik dan kronologik saling berkaitan dan diakibatkan atau dialami oleh para pelaku. Peristiwa di sini diartikan sebagai peralihan dari keadaan yang satu ke keadaan yang lain (Luxemburg, dkk, 1986:149). Artinya, dari peristiwa yang satu menyebabkan terjadinya peristiwa kedua. Dari situ, kemudian berkembang menjadi konflik dan klimaks yang pada dasarnya ditentukan oleh peristiwa pertama.

b) Tokoh dan Perwatakan

Pelukisan watak tokoh dalam drama dapat dilukiskan oleh pelaku lain. Seorang tokoh juga dapat melukiskan perwatakannya sendiri melalui monolog. Selain itu, dalam teks samping diberi petunjuk mengenai watak para pelaku. Analisis tokoh dalam drama dapat dinilai menurut analisis tokoh dalam teks naratif (Luxemburg, dkk, 1986:171-172).

c) Dialog

Ciri khas drama adalah naskah tersebut berupa dialog. Dalam menyusun dialog, penmgarang harus memperhatikan pembicaraan tokoh. Ragam bahasa dalam dialog tokoh drama adalah bahasa lisan yang komunikatif dan bukan ragam bahasa tulis maka diksi hendaknya dipilih sesuai dengan dramatic-action dari plot yang ada. Dialog harus bersifat estetis, artinya harus memiliki keindahan bahasa, bersifat filosofi dan mampu mempengaruhi keindahan (Waluyo, 2002:20-21).

Menurut Luxemburg (1986:164), dialog berhubungan dengan latar dan perbuatan. Sebuah latar dapat dilihat dari munculnya dialog-dialog para tokoh serta segala gerak-gerik diperlihatkan secara langsung maupun tidak langsung yang biasanya berupa teks samping. Dalam dialog tidak hanya terjadi pembicaraan mengenai suatu kejadian, melainkan suatu kejadian itu sendiri dan berarti telah menggerakkan roda-roda peristiwa atau disebut dengan alur.

d) Latar atau Setting

Seting biasanya meliputi tiga dimensi, yaitu tempat, ruang, dan waktu. Seting tempat tidak berdiri sendiri tapi berhubungan dengan waktu dan ruang. Pengarang/penulis dapat membayangkan tempat kejadian denagn hidup. Hal ini berhubungan dengan kostum, tata pentas, make up, dan perlengkapan lain jika naskah tersebut dipentaskan. Waktu juga harus disesuaikan dengan ruang dan tempat.. waktu merupakan jaman atau masa terjadinya lakon (Waluyo, 2002:23-224).

e) Tema

Tema merupakan gagasan pokok yang dikandung dalam drama dan berhubungan dengan nada dasar dari sebuah drama dan sudut pandangan yang dikemukakan pengarang. Dalam drama, tema akan dikembangkan melalui struktur dramatik dalam plot melalui tokoh-tokoh protagonis dan antagonis dengan perwatakan yang memungkinkan konflik dan diformulasikan dalam bentuk dialog (Waluyo, 2002:24).

  1. Membaca Pemahaman Teks Drama

Menurut Abdi yang mengutip gagasan Leech & Lubis (2000:45) menganggap bahwa membaca pemahaman haruslah dipandang sebagai proses kreatif dan konstruktif. Proses kreatif berupa memanfaatkan pengetahuan dan wawasan pembaca untuk mendapatkan pemahaman dari bahan bacaan. Proses konstruktif berupa penyusunan kembali struktur linguistik dan struktur makna, dari kata, frasa, ungkapan, kalimat, dan teks secara menyeluruh berdasarkan pengetahuan dan wawasan pembaca sehingga nantinya akan terjalin kesatuan makna, yaitu makna kontekstual dan situasional.

Membaca pemahaman bertujuan untuk memberikan evaluasi terhadap bahan bacaan atau menemukan kreativitas melalui teks bacaan. Melalui bahan bacaan tersebut ditargetkan pada akhir kegiatan membaca dapat terjalin komunikasi pikiran dan perasaan antara penulis. Wujud dari komunikasi tersebut adalah berupa pemahaman mengenai bacaan sebagai suatu teks sehingga untuk dapat mencapai hal tersebut pembaca harus mampu mendayagunakan pengetahuannya saat membaca (Abdi, 2000:45).

Teks drama adalah wacana dialog yang berbeda-beda dengan teks prosa pada umumnya. Dalam wacana dialog akan lebih sulit dibaca atau dipahami karena dialog tokoh yang satu dilengkapi tokoh-tokoh lain. Wacana dialog seorang tokoh belum tentu berupa kalimat lengkap dan efektif yang terstruktur. Demikian juga jawaban dialog oleh tokoh-tokoh yang lainnya bukan merupakan kalimat lengkap (Waluyo, 2003:159).

Selain itu, Waluyo (2003:158) menambahkan bahwa latihan membaca drama dengan artikulasi yang tepat, suara yang jelas, intonasi dan ucapan yang baik, secara tidak langsung membantu ucapan dan cara membaca siswa. Membaca naskah drama dapat memperkaya kemampuan pembaca dengan memahami jalan cerita, tema, problema dalam cerita drama tersebut.

Pendapat serupa juga dipaparkan oleh Efendi (2002:38) bahwa pemahaman tersebut dapat berupa pemahaman perihal unsur pembentuk drama sebagai suatu struktur yang dibentuk oleh pelaku, latar, rangkaian cerita maupun tema. Secara konseptual pemahaman butir-butir tersebut juga bermanfaat dalam rangka memahami unsur pembentuk drama pada umumnya.

Menurut Efendi (2002:38), pembelajaran apresiasi drama di sekolah lazimnya menjadi salah satu bagian pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Dalam hal ini, pembelajaran drama di sekolah selain dapat digarap secara integratif dengan pembelajaran apresiasi sastra juga dapat diintegrasikan dengan keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Oleh karena itu, guru dapat menyusun rencana pembelajaran yang integratif.

Berdasarkan uraian mengenai kemampuan apresiasi sastra secara umum maka dapat diambil pengertian mengenai kemampuan apresiasi drama, yaitu kemampuan untuk melakukan pengamatan, penilaian, dan penghargaan pada drama secara sungguh-sungguh dan berulang kali. Untuk itu, perlu ditumbuhkan pemahaman terhadap drama itu sendiri. Dengan meresepsi drama, diharapkan akan bisa menghayati karakter tokoh drama, perasaan, pikiran ketika terlibat dalam konflik yang dihadapi, dan perjalanan nasib tokoh (Efendi, 2002:4).

Dengan pemahaman seperti itu, sang apresiator dapat memberikan penghargaan terhadap drama yang telah dibaca atau yang ditontonnya dan pemahaman perihal unsur pembentuk drama sebagai suatu struktur yang dibentuk oleh pelaku, latar, rangkaian cerita maupun tema. Pemahaman butir-butir tersebut juga bermanfaat dalam rangka memahami unsur pembentuk drama secara keseluruhan.

3. Kemampuan Menulis Naskah Drama

a. Hakikat Menulis

Menulis merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa yang harus dikuasai siswa. Keterampilan ini sangat didukung oleh keterampilan membaca. Membaca adalah sarana utama menuju ke keterampilan menulis (Murahimin, 1994:6). Sementara itu, pengertian menulis telah banyak di kemukakan oleh para ahli Widyamartaya (1992: 4) mengemukakan bahwa menulis dapat kita pahami sebagai keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami tepat seperti yang dimaksud oleh pengarang. Menulis bisa juga diartikan sebagai usaha untuk berkomunikasi yang mempunyai aturan main serta kebiasaanya sendiri (Murahimin, 1994:13).

Suhadi (lewat Astiani, 1991:15) menyatakan bahwa menulis adalah kegiatan yang berangkaian dalam mengungkapkan hasil pikir dengan wahana bahasa tulis disajikan kepada orang lain agar dia mengerti maknanya. Definisi menulis yang lain ialah suatu ketrampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tiak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif (Tarigan, 1985:3-4).

Lado (lewat Suriamiharja, dkk. 1996/1997: 1) bahwa to write is not put down the graphic sybols that represent a language one understands, so that other can read these graphic representation yang dapat diartikan bahwa menulis adalah menempatkan simbol-simbol grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dimengerti oleh seseorang, kemudian dapat dibaca oleh orang lain yang memahami bahasa tersebut besarta simbol-simbol grafisnya.

Secara aplikatif, Jabrohim dkk (2003: 67) mengemukakan bahwa menulis kreatif sastra (naskah drama) merupakan suatu kegiatan seseorang “intelektual” yang menuntut seorang penulis harus benar-benar cerdas, menguasai bahasa, luas wawasannya, sekaligus peka perasaannya. Syarat-syarat tersebut menjadikan hasil penulisan puisi berbobot intelektual, tidak sekedar bait-bait kenes, cengeng, dan sentimental.

Menurut Hastuti (1992), keterampilan menulis adalah keterampilan yang sangat kompleks. Menulis melibatkan cara berpikir dan kemampuan mengungkapkan pikiran gagasan, perasaan dalam bentuk bahasa tertulis. Menulis merupakan kegiatan melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulisan. Dapat juga diartikan bahwa menulis adalah berkomunikasi mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kehendak kepada orang lain secara tertulis. Selanjutnya, juga dapat diartikan bahwa menulis adalah menjelmakan bahasa lisan, mungkin menyalin atau melahirkan pikiran atau perasaan seperti mengarang, membuat surat, membuat laporan dan sebagianya (Suriamiharja, dkk., 1996/1997: 2).

Menurut Akhadiah (1995: 2), menulis dapat didefinisikan sebagai:

(1) merupakan suatu bentuk komunikasi

(2) merupakan proses pemikiran yang dimulai dengan pemikiran tentang gagasan yang akan disampaikan

(3) merupakan bentuk komunikasi yang berbeda dengan bercakap-cakap; dalam tulisan tidak terdapat intonasi, ekspresi wajah, gerakan fisik, serta situasi yang menyertai percakapan

(4) merupakan suatu ragam komunikasi yang perlu dilengkapi dengan alat-alat penjelas serta ejaan dan tanda baca

(5) merupakan bentuk komunikasi untuk menyampaikan gagasan penulis kepada khalayak pembaca yang dibatasi oleh jarak, tempat, dan waktu.

Dengan mencermati teori-teori di atas, dapat dikemukakan bahwa menulis adalah kegiatan menuangkan gagasan, ide, atau pendapat yang akan disampaikan kepada orang lain (pembaca) melalui media bahasa tulis untuk dipahami tepat seperti yang dimaksud oleh penulis.

b. Fungsi, Tujuan, dan Manfaat Menulis

Pada prinsipnya fungsi utama tulisan adalah sebagai alat komunikasi secara tidak langsung atau tidak bertatap muka dengan orang yang diajak berkomunikasi. Bagi seorang siswa, kegiatan menulis mempunyai fungsi utama sebagai sarana untuk berpikir dan belajar. Melalui tugas menulis yang diberikan di sekolah, siswa telah belajar mengungkapkan ide dan mendemonstrasikan bahwa mereka telah menguasai materi pelajaran yang diberikan.

Selain fungsi, menulis juga mempunyai tujuan, di antaranya tulisan dapat digunakan untuk meyakinkan, melaporkan, mencatat, dan mempengaruhi orang lain. Akhadiah dkk. (1993: 1) mengatakan beberapa keuntungan yang dapat dipetik dari pelaksanaan kegiatan menulis yaitu (1) dapat mengenali kemampuan dan potensi diri, (2) mengembangkan beberapa gagasan, (3) memperluas wawasan, (4) mengorganisasikan gagasan secara sistematik dan mengungkapkan secara tersurat, (5) dapat meninjau dan menilai gagasan sendiri secara lebih objektif, (6) lebih mudah memecahkan permasalahan, (7) mendorong diri belajar secara aktif, dan (8) membiasakan diri berpikir serta berbahasa secara tertib. Darmadi (1996: 1) mengungkapkan bahwa kemampuan menulis didapatkan bukan melalui warisan, tetapi didapatkan melalui proses belajar. Semakin sering menulis, semakin besar pula kemampuan seseorang dalam membuat tulisan. Hal senada juga diungkapkan Tarigan (1982: 3-4) bahwa menulis merupakan alat komunikasi secara tidak langsung. Kemampuan ini dapat diperoleh dengan cara praktik yang teratur.

Berdasarkan pendapat tersebut, jelaslah bahwa berbagai manfaat dapat diambil dari kemampuan menulis. Untuk itu, perlu dikembangkan kemampuan menulis dan berlatih menulis secara terus-menerus. Hal ini bertujuan menjadikan seseorang lancar dan baik dalam membuat tulisan. Apalagi mengingat kemampuan menulis merupakan kemampuan berbahasa yang paling sukar, maka tentu saja pengembangan dan latihan menulis dapat dijadikan pengalaman produktif yang berharga bagi siswa.

c. Kemampuan Menulis Naskah Drama

Dalam pengajaran menulis, guru dapat menggunakan teknik pengajaran menulis naskah drama. Teknik pengajaran tersebut berupa tugas kemampuan menulis naskah drama. Bentuk tugas kemampuan menulis meliputi: tugas menyusun alinea yang berupa tes objektif, menulis berdasarkan rangsang visual berupa gambar atau film, menulis berdasarkan rangsang suara langsung maupun dengan media lainnya, menulis dengan rangsang buku, menulis laporan, menulis surat, dan menulis berdasarkan tema (Nurgiyantoro, 2001:274-277).

Ketika menulis sebuah naskah lakon harus memperhatikan kekuatan dialog karena dari dialog ini akan tergambar berbagai unsur-unsur yang dikehendaki oleh penulis. Apakah itu karakter tokoh, perkembangan cerita, perkembangan suasana dan lain-lain. Dari dialog ini akan dirasakan kedalaman naskah lakon dan berbagai informasi emosi yang terkandung di dalam naskah lakon. Kekuatan dialog itu akan tercermin dengan ketepatan pemilihan kata. Dari naskah lakon itu akan bisa dirasakan apakah naskah itu komunikatif atau tidak, menarik atau tidak, dan sebagainya (Hanindawan, 2005).

Riantiarno mengemukakan bahwa ada tiga syarat utama bagi para calon penulis naskah drama, yaitu:

  1. Memiliki kebutuhan berekspresi melalui tulisan, menulis yang dirasa harus ditulis dan tak bosan belajar dan terus menulis.
  2. Sifat moralitas penulisan, yang sering dianggap `kuno'.

Naskah drama/opera/operet, selalu berhubungan erat dengan perilaku manusia dan sering disebut sebagai cermin kehidupan atau saripati kehidupan. Selalu ada hubungan sebab dan akibat. Bermula dari sebab, berujung pada akibat. Misal, ‘yang baik menerima ganjaran/hadiah/anugerah’ ‘yang jahat menerima kutuk atau hukuman setimpal’.

  1. Setelah tema dipatok lalu menuliskan sinopsis dan membuat sebuah struktur, kerangka, atau bagan dramatik yang paling sederhana.

a. Pembuka/Pengantar/Prolog (sebab)

b. Isi, pemaparan-konftik-klimaks-antiklimaks/resolusi (permasalahan)

c. Penutup/penyelesaian/epilog/solusi/keputusan (akibat)

Dalam pengajaran drama, selain siswa diberikan pengetahuan terhadap drama, melakukan produksi pementasan drama sendiri atau diajak langsung menyaksikan sebuah pementasan drama, siswa juga dituntut dapat mencipta atau menyusun sebuah naskah drama. Kegiatan ini tidak semudah menyusun sebuah cerita narasi. Siswa dituntut mengembangkan unsur lain yang menjadi kekuatan naskah sehingga menjadi lebih mantap dan hidup, baik dari segi aktualitas tema, alur, penggambaran tokoh maupun seting dan penyusunan dialog.

B. Penelitian yang Relevan

Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah “Hubungan antara Minat terhadap Karya Sastra dan Kemampuan Membaca Pemahaman dengan Kemampuan Apresiasi Sastra Siswa Kelas II SMU I Sleman” yang dilakukan oleh Trimuriati. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa: (1) terdapatnya hubungan yang positif dan signifikan antara minat terhadap karya sastra dengan kemampuan apresiasi sastra siswa kelas II SMU I Sleman; (2) terdapatnya hubungan yang positif dan signifikan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan apresiasi sastra siswa kelas II SMU I Sleman; (3) terdapatnya hubungan yang positif dan signifikan antara minat terhadap karya sastra dan kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan apresiasi sastra siswa kelas II SMU I Sleman.

Selain itu, penelitian serupa dilakukan oleh Tiwi Andayani “Sumbangan Minat Membaca dan Kemampuan Apresiasi Cerpen dengan Menulis Cerpen Siswa Kelas XI SMAN 6 Yogyakarta” yang menyatakan (1) Terdapat sumbangan antara kemampuan apresiasi cerpen dengan menulis cerpen siswa kelas XI SMAN 6 Yogyakarta. (2) Terdapat sumbangan antara minat membaca dengan menulis cerpen siswa kelas XI SMAN 6 Yogyakarta. (3) Terdapat sumbangan antara minat membaca dan kemampuan apresiasi cerpen terhadap kemampuan menulis cerpen siswa kelas XI SMAN 6 Yogyakarta.

Penelitian ini (“Minat Drama dan Membaca Pemahaman Teks Drama terhadap Kemampuan Menulis Naskah Drama Siswa Kelas XI SMAN 8 Yogyakarta”) belum pernah ada sebelumnya. Penelitian ini juga memiliki hal baru dan berbeda dari penelitian yang relevan di atas, yaitu pada variabel terikat “Kemampuan Menulis Naskah Drama”. Masih sangat jarang mahasiswa S1 meneliti permasalahan serupa yang terdapat dalam penelitian ini dan belum pernah ada pada penelitian-penelitian sebelumnya.

C. Kerangka Pikir

1. Kontribusi antara minat drama terhadap kemampuan menulis naskah drama siswa kelas XI SMAN 8 Yogyakarta.

Minat merupakan sesuatu yang lahir dari dalam diri masing-masing individu tanpa adanya unsur paksaan. Hal ini menjadi pendorong utama yang menyebabkan individu memberikan perhatian lebih besar terhadap sesuatu objek atau kegiatan tertentu. Semakin banyak perhatian yang menyertai suatu kegiatan tertentu, akan semakin berhasil kegiatan itu. Siswa yang mempunyai minat akan memberikan perhatian dan kemampuan lebih baik untuk melakukan pengamatan, penilaian, dan penghargaan terhadap drama secara sungguh-sungguh dan berulang kali.

Dengan demikian, semakin besar minat drama siswa, semakin tinggi pula kemampuan menulis naskah drama yang dicapainya. Sebaliknya, semakin kecil minat drama maka semakin rendah kemampuan menulis naskah drama yang dicapainya.

2. Kontribusi antara membaca pemahaman terhadap kemampuan menulis naskah drama siswa kelas XI SMAN 8 Yogyakarta

Membaca pemahaman pada hakikatnya adalah menerapkan hasil pengetahuan, pemahaman, apresiasi, analisis, sintetis, dan evaluasi. Lebih jauh lagi memberikan evaluasi terhadap bahan bacaan atau menemukan kreativitas melalui teks bacaan. Melalui bahan bacaan tersebut ditargetkan pada akhir kegiatan membaca dapat terjalin komunikasi pikiran dan perasaan antara penulis. Wujud dari komunikasi tersebut adalah berupa pemahaman mengenai bacaan sebagai suatu teks. Hasil pemahaman membaca untuk kemudian dapat diterapkan dalam bentuk tulisan. Sebab, dengan membaca, siswa akan mendapatkan bahan untuk menulis.

Salah satu bentuk menulis kreatif ialah menulis naskah drama. Dalam menulis naskah drama, diperlukan suatu proses kreatif. Salah satunya ialah melalui membaca pemahaman. Dengan memahami bacaan maka akan semakin mudah mengaplikasikannya dalam tulisan, sebagai contoh ialah membaca cerpen atau membaca cerita. Hasil bacaan itu dapat dimodifikasi menjadi sebuah tulisan, yaitu naskah drama.

Dengan demikian, antara membaca pemahaman teks drama terhadap kemampuan menulis naskah drama mempunyai hubungan yang erat. Seseorang tidak akan mempunyai kemampuan yang baik untuk menulis tanpa banyak membaca. Apalagi menulis naskah drama yang memerlukan proses kreatif terlebih dahulu. Membaca pemahaman teks drama dapat dijadikan sebuah proses kreatif dalam menulis naskah drama.

3. Kontribusi antara minat drama dan membaca pemahaman teks drama terhadap kemampuan menulis naskah drama siswa kelas XI SMAN 8 Yogyakarta.

Keberhasilan pengajaran sastra khususnya drama di sekolah dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang berasal dari diri siswa adalah adanya minat pada karya sastra (drama). Minat diperlukan ketika individu tengah menekuni suatu aktivitas atau objek yang diminatinya.

Tinggi rendahnya minat drama dapat dilihat melalui intensitas dalam mengakrabi drama. Kesenangan dan keakrabannya dengan drama dapat mempengaruhi tingkat pemahaman dalam membaca untuk apresiasi drama. Apabila pemahaman telah tercapai oleh seseorang maka dalam menulis naskah drama sebagai suatu teks tidak akan mengalami kesulitan.

Pada tahap menulis, usaha anak tidak hanya terbatas untuk mengenali huruf atau merangkaikan huruf yang itu-itu saja. Dalam tahap ini, ia akan berusaha agar dapat menyampaikan gagasan, ide, konsep, perasaan, dan kemauannya kepada orang lain lewat tulisan. Menulis bertujuan untuk mencatat atau merekam ide, meyakinkan, melaporkan atau memberitahukan, dan untuk mempengaruhi pembaca. Berkaitan dengan hal itu, anak memerlukan sumber bacaan sebagai acuan atau pedoman dalam menulis agar tulisannya itu berkualitas baik. Jadi, antarkeempat keterampilan berbahasa tersebut memiliki keterkaitan yang erat.

Keberhasilan menulis kreatif karya sastra khususnya naskah drama dipengaruhi oleh minat drama dan membaca. Kesanggupan mengamalkan pemerolehannya dari minat drama dan kegiatan membaca teks sastra (drama) merupakan salah satu indikator keberhasilan dalam kegiatan menulis naskah drama. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa terdapat kontribusi yang signifikan antara minat drama dan membaca teks sastra (drama) terhadap kemampuan menulis naskah drama.

D. Pengajuan Hipotesis

Hipotesis yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah:

  1. terdapat kontribusi antara minat drama terhadap kemampuan menulis naskah drama siswa kelas XI SMAN 8 Yogyakarta;
  2. terdapat kontribusi antara membaca pemahaman teks drama terhadap kemampuan menulis naskah drama siswa kelas XI SMAN 8 Yogyakarta;
  3. terdapat kontribusi antara minat drama dan membaca pemahaman teks drama terhadap kemampuan menulis naskah drama siswa kelas XI SMAN 8 Yogyakarta.

Tidak ada komentar: